shutterstock_171185072

Bali, pulau dewata sejuta pesona. Kekayaan alamnya membuat orang-orang dari segala penjuru dunia berbondong-bondong mengunjunginya, membuat permintaan akan tempat penginapan pun meningkat. Akibatnya, pasar properti pun ikut terangkat. Namun, bagaimana sebenarnya kondisi pasar properti di Bali? Masihkah ia didominasi oleh hotel dan resort mewah bintang lima.

Jumlah Lahan yang Terbatas

Apabila Anda berkunjung ke Bali baru-baru ini dan merasa tidak memiliki ruang gerak yang cukup, hal tersebut tidak terlepas dari isu terbatasnya jumlah lahan di sana. Dampaknya berpengaruh kepada harga tanah di Bali yang terus meningkat. Menariknya, kondisi pasar properti di Bali masih tergolong stabil. Berdasarkan data yang dihimpun oleh popbali.com, Made Sudhana sebagai Sekretaris DPD Real Estate Indonesia (REI) mengatakan bahwa hal tersebut disebabkan oleh daya beli masyarakat terhadap properti yang terus meningkat.

Terlebih, sejak beberapa tahun belakangan ini, generasi muda di Bali mengalami perubahan cara pandang mereka mengenai tempat tinggal. Dulu, para pemuda Bali yang mulai tumbuh dewasa dan mapan memilih untuk tetap tinggal dan berkumpul dengan keluarga besar, namun kini mereka cenderung ingin lebih mandiri dan memilih hunian yang dekat dengan tempat kerja.

Sayangnya, sudah cukup banyak pengembang yang tidak lagi mampu membangun perumahan rakyat di Bali. Lagi-lagi harga tanah yang meningkat dari tahun-tahun menjadi penyebab utamanya, terutama di kawasan Kota Denpasar dan Kabupaten Badung. Akhirnya, para pengembang pun beralih ke sektor rumah toko (ruko). Sektor hotel dan villa pun kian melemah karena jumlahnya yang sudah begitu banyak, membuat persaingan antar pengembang jadi sangat ketat. Sebagai alternatif, Made menyarankan kawasan Tabanan dan Gianyar yang kabarnya masih memiliki tanah dengan harga di bawah Rp 100 juta per 100 meter persegi.

Loyonya Pasar Properti Menengah Atas

Kondisi pasar properti Bali yang tidak terlalu menggembirakan tersebut juga berimbas pada kelas menengah atas. Kabarnya, pasa properti untuk kelas tersebut sedang mengalami penurunan penjualan karena menurut I Gusti Made Aryawan, Ketua DPD REI Bali, calon pembeli atau investor masih melakukan aksi wait and see. Melalui situs berita Kompas, Aryawan menyatakan bahwa hal tersebut tidak terlepas dari aksi tunda yang dilakukan konsumen, sementara pasokan yang masuk pasar berlebihan. Akibatnya, harga menjadi tertekan sehingga tidak menarik lagi untuk dijadikan investasi. Konsumen pun memilih untuk menunda pembelian.

shutterstock_230079418

Sektor yang paling terkena imbas dari kondisi pasar properti untuk kelas menengah atas ini adalah properti dengan harga di atas Rp 1 miliar seperti kondominium hotel (kondotel) dan rumah tapak. Akhirnya, pengembang properti Bali yang selama ini menyasar kelas menengah atas pun bergeser pada proyek baru. Beberapa di antaranya bahkan vakum dari bisnis properti. Di Bali, ada 80 pengembang yang terdaftar dalam DPD REI Bali. Mayoritas berasal dari pengembang yang menyasar kelas menengah ke bawah. Jumlah tersebut berkurang drastis dari tahun lalu yang mencapai 200 pengembang.

Didongkrak oleh Pengembang Asing

Meski begitu, bukan berarti pasar properti di Bali lantas luluh lantak. Dimulainya era Masyarakat Ekonomi Asean diyakini akan meningkatkan pertumbuhan pasar properti di Indonesia, tidak terkecuali Bali. Berdasarkan data yang dihimpun dari situs bisnis.com, Anton Sitorus sebagai Director Head dari Research Savills Property Connection Indonesia mengatakan bahwa saat ini banyak pengembang asing yang mulai percaya dengan pasar properti Indonesia. Hal tersebut menunjukkan adanya kepercayaan terhadap potensi pertumbuhan ekonomi Indonesia dan peluang dari aspek demografi.

Tentunya hal tersebut juga harus didukung oleh pengembang lokal. Masih dari situs yang sama, Eddy Rusni, Ketua Umum REI menyatakan bahwa umumnya pengembang dalam negeri tidak begitu khawatir dengan adanya MEA karena sebelumnya mereka sudah pernah bekerjasama dengan pengembang asing. Bahkan menurut Ferry Salanto, Associate Director dari Colliers International, sejumlah pengembang asing sudah menunjukkan keseriusan untuk terjun ke pasar properti Indonesia sejak sebelum MEA berlaku akhir tahun lalu.

Bali akan menjadi salah satu kawasan yang terciprat keuntungan dari masuknya pengembang asing tersebut. Bukan tidak mungkin sektor perumahan di Bali akan kembali menggeliat. Anda bisa mulai melakukan riset melalui Lifull Rumah dari sekarang apabila tertarik untuk melakukan investasi properti di Bali.

SHARE

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here